Sinopsis Novel Padang Ilalang di Belakang Rumah Karya Nh. Dini - Dini hidup dalam keluaraga yang sangat rukun dan berkecukupan. Dini adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Kakaknya yang paling tua adalah Heratih, Nugroho, Maryam, dan yang terakhir adalah Teguh. Pada saat penjajahan Jepang ini, Dini masih duduk di bangku SD. Rumah orang tua Dini lumayan besar dan mempunyai halaman yang cukup luas di depan dan di belakang rumah. Keluarga Dini merupakan keluarga yang lumayan kaya yang berada di desanya.
Sejak Jepang datang ke Indonesia, keadaan ekonomi keluarga Dini mengalami kemunduran. Hal ini menyebabkan kedua orang tuanya harus bekerja keras. Ibunya mulai membuat kue kering dan membatik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu halaman yang cukup luas di depan dan belakang rumah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Halaman belakang dijadikan tempat untuk membuat kue dan membatik. Namun demikian, kehangatan dalam keluarga tetap terjalin.
Belanda meninggalkan kota Dini. Rakyat merampok isi gedung yang bisa mereka buka. Kemudian Jepang masuk dan kota jatuh pada tangannya tanpa ada yang melawan. Jepang menyusun kembali kegiatan hidup penduduk. Tiba-tiba beberapa serdadu Jepang ada di belakang Rumah Dini dengan memotong ilalang di padang yang membatasi kebun dengan sungai milik Dini. Orang kampung bergegas menyaksikan para pendatang itu. Tanpa kesopanan sedikitpun serdadu Jepang itupun mematahkan bilah-bilah bambu serta tanaman yang menjadi pagar dan menuju ke tempat ayah Dini berdiri. Ayah Dini tidak ingin terlalu lama meladeni serdadu itu sehingga ia mengusirnya.
Kata peramal itu suatu ketika dalam hidupnya nanti Teguh akan menemui rintangan tapi karena kegigihannya dia bisa melepaskan diri dari rintangan itu. Dan anehnya ramalan itu benar terjadi, Teguh terjepit diantara cabang pohon belimbing ketika mengambil buah belimbing untuk rujak Bibinya. Sampai akhirnya dengan terpaksa agar Teguh bisa keluar, ayah dan paman memotong satu cabang pohon belimbing yang umurnya sama dengan Heratih itu. Sejak peristiwa itulah Teguh mendapat julukan banteng kejepit.
Analisis:
Unsur Intrinsik: Tema, latar/seting, alur, sudut pandang, tokoh, gaya penulisan, dan amanat/pesan.
Unsur Ekstrinsik: Biografi pengarang, Nilai Agama, sosial, Bahasa, kebiasaan, adat, etika.
Keunggulan dan kelemahan.
Artikel yang diposting ini hanya ulasan, dan untuk lebih lengkapnya silahkan DOWNLOAD